Jika AS-Iran Perang Terbuka, Harga Emas Diprediksi Segini
:
0
|
:
243
Ilustrasi emas murni (Dok. WGC)
EmitenNews.com - Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga emas masih berpotensi melanjutkan kenaikan tajam dalam sepekan ke depan, terutama jika ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.
Menurut Ibrahim, kegagalan atau tidak diperpanjangnya gencatan senjata antara AS dan Iran berisiko memicu perang terbuka yang akan mendorong lonjakan harga emas, minyak, sekaligus penguatan dolar AS. Jika konflik meningkat dan Iran tetap menutup Selat Hormuz, distribusi minyak global diperkirakan terganggu sehingga harga minyak melonjak dan tekanan inflasi meningkat.
Dalam pesan suara yang dikutip Minggu (12/4/2026), Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia berpeluang menembus US$5.138 per troy ounce, sementara harga emas batangan domestik dapat naik hingga Rp3.100.000 per gram dalam perdagangan pekan depan. Sebagai perbandingan, harga emas dunia ditutup di level US$4.749 per troy ounce pada 11 April 2026, dengan harga logam mulia domestik berada di Rp2.860.000 per gram.
Namun, Ibrahim juga mengingatkan adanya potensi koreksi. Untuk skenario penurunan, support pertama diperkirakan berada di US$4.638 per troy ounce dengan harga logam mulia sekitar Rp2.840.000 per gram. Jika tekanan berlanjut, support kedua berada di US$4.358 per troy ounce dan Rp2.780.000 per gram. Sebaliknya, bila tren bullish berlanjut, resistance pertama diperkirakan di level US$4.897 per troy ounce dengan harga domestik Rp2.880.000 per gram.
Ibrahim menilai ada empat faktor utama yang memengaruhi volatilitas harga emas saat ini. Pertama adalah geopolitik, khususnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia menilai jika negosiasi antara Iran dan AS menghasilkan jeda perang selama dua pekan, harga minyak bisa turun sehingga inflasi mereda. Kondisi itu dapat membuka ruang bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga, yang biasanya menjadi katalis positif bagi emas.
Faktor kedua adalah dinamika politik domestik AS, termasuk kontroversi pernyataan Presiden Donald Trump terkait Iran yang memicu kecaman internal dan seruan pemakzulan. Ketiga, pergantian pimpinan Federal Reserve awal Mei mendatang juga menjadi sorotan. Ibrahim menyebut calon gubernur baru, Kevin Walsh, disebut memiliki komitmen kerja sama dengan Trump untuk menurunkan suku bunga.
Faktor keempat adalah permintaan global terhadap emas yang terus meningkat. Menurut Ibrahim, banyak bank sentral dunia kini menambah cadangan emas sebagai alternatif devisa di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi.
Di sisi lain, Ibrahim juga memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berpotensi melemah dan kemungkinan tetap bertahan di atas level Rp17.000 per dolar AS.
Related News
Kelola Sampah Jadi Listrik, Danantara Dirikan PT Denera
Pemerintah Bersiap Seleksi Pita Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz
Profesor IPB Kenalkan Langkah Sederhana Hadapi OPT
Harga Emas Turun Tajam, Sinyal Stabilisasi Mulai Muncul
Perluasan Transaksi Mata Uang Lokal Redam Volatilitas Nilai Tukar
Harga Emas Berpotensi Naik, Cek Harganya Hari Ini!





