Konflik AS-Iran Panas, Brent Tembus USD109 Ancam APBN
:
0
Minyak mentah acuan Brent naik mendekati level USD109 per barel pada perdagangan Jumat (11/9/2026).(Ilustrasi: Magnific)
EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan reli tajam seiring memanasnya konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Minyak mentah acuan Brent naik mendekati level USD109 per barel pada perdagangan Jumat (11/9/2026).
Kenaikan ini membuat harga minyak mentah Brent diperkirakan melonjak sekitar 13 persen sepanjang pekan ini. Capaian tersebut menandai lonjakan harga mingguan terbesar sejak pertengahan Juli 2026 akibat kekhawatiran gangguan berkepanjangan pada pasokan energi global.
Trading Economics mencatat eskalasi pertempuran meningkat signifikan dalam dua minggu terakhir. Pasukan AS menargetkan kapal tanker minyak Iran, sementara Iran meluncurkan serangan rudal ke kapal perang dan tanker AS di Teluk Persia serta fasilitas milik Amerika di negara tetangga.
Laporan pejabat tinggi AS memperingatkan Presiden Donald Trump bahwa konflik bersenjata ini berpotensi berlanjut hingga akhir masa jabatannya pada Januari 2029. Di sisi lain, jajaran pemimpin Iran bertekad melanjutkan pertempuran karena menganggap konflik tersebut sebagai ancaman eksistensial.
Pihak Iran mengklaim telah berhasil membangun kembali kemampuan rudalnya. Teheran mengancam akan mengintensifkan serangan terhadap aset AS dan negara-negara Teluk jika Washington meningkatkan gempuran militernya.
"Para pejabat tinggi AS dilaporkan memperingatkan Presiden Donald Trump bahwa perang dapat berlanjut hingga akhir masa jabatannya, yang berakhir pada Januari 2029," tulis laporan Trading Economics terkait dinamika ketegangan geopolitik tersebut.
Sebelum menyentuh kisaran USD109, harga minyak mentah sempat bergerak mendekati level USD104 per barel sebelum dorongan sentimen perang mendorong harga lebih tinggi pada akhir pekan.
Melambungnya harga minyak Brent hingga mendekati USD109 per barel ini memberikan dampak langsung bagi asumsi makroekonomi Indonesia. Kenaikan yang jauh melampaui asumsi ICP APBN ini memperbesar beban subsidi energi nasional serta memicu tekanan inflasi impor (imported inflation) di dalam negeri.(*)
p
Related News
Peluang Cuan, Lelang 380 Ribu Ton Beras Turun Mutu Prioritaskan UMKM
Revisi Perpres 26/2026, Pemerintah akan Impor Crude dari Banyak Negara
Bursa AS Cenderung Datar Jelang Rilis Kinerja Keuangan & Fed
Pasar Domestik dan China Ambruk, Saham Hyundai Anjlok 60%
Upaya Diplomasi Timur Tengah Tekan Harga Minyak Mentah
Microsoft Pensiundinikan 60 Ribu Orang, 1/4 Total Karyawan karena Ini





