EmitenNews.com - Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Sikap wait and see ditunjukkan investor yang bersiap menantikan rilis laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) periode Agustus.

Pergerakan stabil ini terjadi setelah indeks utama Wall Street melorot pada sesi sebelumnya. Angka inflasi konsumen yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) bakal menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan pekan depan.

Ekspektasi pengetatan moneter tersebut dipicu oleh rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis yang mencatatkan kenaikan inflasi di tingkat produsen sepanjang bulan lalu. Kenaikan biaya produksi ini disebabkannya perang antara AS dan Iran yang mengerek harga energi grosir.

Berdasarkan data Trading Economics, pada perdagangan reguler Kamis, tiga indeks utama Wall Street kompak melemah dan memperpanjang tren penurunan selama empat sesi berturut-turut. Indeks Dow Jones Industrial Average melorot 0,61 persen, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing terkoreksi 0,59 persen dan 0,65 persen.

Pasar ekstrim tertekan akibat lonjakan harga minyak mentah dunia serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang memicu kekhawatiran inflasi global.

Angka inflasi konsumen yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga minggu depan, menyusul data hari Kamis yang menunjukkan inflasi produsen meningkat bulan lalu karena perang Iran mendorong kenaikan harga energi grosir.

Di ranah korporasi, saham Oracle melonjak lebih dari 4 persen pada perdagangan setelah jam kerja (after-hours) usai melaporkan kinerja kuartalan di atas ekspektasi pasar. Sebaliknya, saham Adobe merosot lebih dari 2 persen akibat proyeksi (guidance) kinerja yang lemah untuk kuartal berjalan.

Stabilnya futures AS di tengah bayang-bayang data CPI dan lonjakan inflasi produsen ini memberi sinyal kewaspadaan bagi pasar keuangan Indonesia. Tren penurunan empat hari di Wall Street serta potensi kenaikan suku bunga The Fed berisiko menahan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan memperketat arus modal keluar dari pasar domestik.(*)