EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) mengalami penurunan tajam hingga menembus ke bawah level psikologis 7.000. Berdasarkan laporan Seoul Economic Daily pada Jumat (24/7/2026), anjloknya indeks dipicu oleh kembali memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta meningkatnya kekhawatiran atas lonjakan harga minyak dunia.

Guncangan pasar modal di kawasan Asia ini berpotensi memberi sentimen negatif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia dan pasar keuangan regional.

Bursa Efek Korea (KRX) mengaktifkan sinyal penangguhan sementara pesanan jual program atau sell sidecar pada pukul 11.23 waktu setempat. Kebijakan ini diambil setelah kontrak berjangka KOSPI 200 turun 5 persen dari sesi sebelumnya dan bertahan selama satu menit. KOSPI tercatat diperdagangkan pada level 6.769,51 atau merosot 4,61 persen, menghapus penguatan hari sebelumnya yang sempat ditutup pada posisi 7.096,89.

Penurunan IHSG Korea Selatan ini diseret oleh jatuhnya harga saham-saham berkapitalisasi besar. Saham produsen memori terbesar dunia, Samsung Electronics, anjlok 6,11 persen ke level 253.500 won, sementara SK hynix terperosok 5,99 persen ke posisi 1,804 juta won. Koreksi dalam juga dialami oleh Hyundai Motor sebesar 8,45 persen, SK Square 8,19 persen, dan Samsung Electro-Mechanics 7,67 persen. Hanya Samsung Biologics yang mencatatkan kenaikan di jajaran sepuluh besar berkat laporan kinerja keuangan yang kuat.

Tekanan di bursa Korea Selatan mengekor pelemahan tiga indeks utama di Bursa Saham New York, AS. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,97 persen, S&P 500 merosot 1,21 persen, dan Nasdaq jatuh 2,15 persen.

Sentimen investor global memburuk seiring meningkatnya eskalasi militer di Timur Tengah dan ketidakpastian investasi teknologi AI. Presiden AS Donald Trump menyatakan dalam wawancara media lokal bahwa dirinya sedang mempertimbangkan serangan skala besar terhadap Iran.

Di saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi dan mengumumkan blokade Laut Merah. Kondisi ini memperparah kekhawatiran gangguan rantai pasokan minyak mentah global setelah terhentinya jalur Selat Hormuz.(*)