Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Tekan Harga Emas ke USD 4.050
:
0
Harga emas bergerak fluktuatif di kisaran USD 4.050 per ons pada perdagangan hari Jumat.(Foto: Dok)
EmitenNews.com - Harga emas bergerak fluktuatif di kisaran USD 4.050 per ons pada perdagangan hari Jumat. Pergerakan ini menahan penurunan hampir 2 persen yang terjadi pada sesi sebelumnya, di tengah lonjakan harga minyak akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan pantauan dari laman Dewan Emas Dunia (World Gold Council harga emas di pasar spot pagi Ini WIB berada di level USD 4.045 per ons.
Kenaikan harga minyak mentah jenis Brent hingga menembus di atas USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei dipicu oleh ketegangan geopolitik terbaru.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan adanya potensi perluasan aksi militer terhadap Iran. Selain itu, ia berjanji akan meminta pertanggungjawaban Teheran atas setiap serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah pada masa mendatang.
Lonjakan harga minyak tersebut memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS atau The Fed akan menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi memberikan tekanan langsung pada aset-aset yang tidak menghasilkan imbal hasil, termasuk emas.
Berdasarkan data pasar saat ini, pelaku pasar memperhitungkan probabilitas sebesar 34 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed pada minggu depan. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada bulan September telah meningkat hingga di atas 78 persen.
Ketidakpastian pasar global juga semakin bertambah seiring berlakunya kebijakan tarif baru AS sebesar 10 hingga 12,5 persen terhadap impor dari beberapa mitra dagang utamanya.
Meskipun menghadapi tekanan harian, harga emas secara keseluruhan masih berada dalam jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan secara moderat.
Dinamika harga emas global dan kenaikan harga minyak mentah hingga di atas USD 100 per barel ini menjadi perhatian mendalam bagi para pelaku pasar di Indonesia. Perkembangan suku bunga AS serta potensi kenaikan inflasi imbas harga energi berisiko memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah, tingkat inflasi domestik, hingga ketertarikan masyarakat terhadap investasi logam mulia di dalam negeri.(*)
Related News
Konflik Timur Tengah Memanas, Emas Antam Anjlok Rp35 Ribu
Yen Anjlok Terendah 40 Tahun, AS Desak BOJ Naikkan Suku Bunga
Inflasi Jepang Rekor Tertinggi 6 Bulan Usai Subsidi Energi Dipangkas
Harga Minyak Brent Tembus USD 100, Bursa Saham AS Ikut Anjlok
AS Kenakan Indonesia Tarif Tambahan 10%, Masuk Daftar 60 Negara
AS Marah Uni Eropa Denda Google Rp18 Triliun





