EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin kembali ditutup melemah. Itu dipicu lompatan imbal hasil obligasi pemerintah, dan harga minyak global. Imbal hasil obligasi pemerintah mencatat kenaikan setelah Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) mengumumkan akan menaikkan jumlah pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang hingga 3x lipat dari rencana semula yaitu menjadi USD6 miliar.

Setelah pengumuman tersebut imbal hasil obligasi dengan tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak November 2023 di 4,857 persen. Kenaikan imbal hasil itu terjadi karena investor memprediksikan Kementerian Keuangan AS kemungkinan masih akan menaikkan anggaran buyback menjadi sekitar USD7-8 miliar.

Di sisi lain, harga minyak mentah terpantau mengalami kenaikan signifikan. Minyak jenis WTI melonjak 3,25 persen menjadi USD96,05 per barel, dan minyak jenis Brent menguat 3,36 persen menjadi USD101,21 per barel. Koreksi indeks bursa Wall Street, dan aksi jual investor asing diprediksi menjadi sentimen negatif pasar.

Selanjutnya, lompatan harga beberapa komoditas seperti minyak mentah, nikel, timah, emas, dan tembaga berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). Dengan begitu, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 6.635-6.590, dan resistance 6.720-6.765.

Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan pelaku pasar untuk memperhatikan saham Alamtri Mineral Resources (ADMR), Aneka Tambang alias Antam (ANTM), Trimegah Bangun Persada (NCKL), Astra Agro Lestari (AALI), Harum Energy (HRUM), J Resources Asia (PSAB). (*)