OJK: Indeks Global MSCI Tak Bisa Lagi Ditopang Free Float Semu
:
0
Potret Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam konferensi pers, Rabu (13/5/2026). Foto: Istimewa.
EmitenNews.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyerukan reformasi integritas pasar modal yang sedang berjalan membuat saham-saham dengan struktur free float tidak riil semakin sulit bertahan di indeks global seperti MSCI Inc. yang memiliki metode penghitungan dan indeksasinya sendiri.
Adapun, transparansi kepemilikan saham yang kini dibuka lebih rinci dinilai membuat penyedia indeks global seperti MSCI lebih mudah menyaring saham.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam konferensi pers, Rabu (13/5/2026) mengatakan sebagian saham yang terdampak penyesuaian indeks merupakan emiten yang sebelumnya mengklaim memiliki porsi free float tertentu, namun setelah transparansi kepemilikan dibuka ternyata tidak sepenuhnya memenuhi ketentuan.
“Terlihat adanya saham-saham yang setelah transparansinya dibuka tentu memudahkan para indeks provider untuk kemudian meng-exclude bagian tertentu yang semula mungkin merupakan self-claim adanya bagian free float yang rupanya setelah dibuka tidak menjadi bagian free float tertentu,” ujar Hasan.
Menurut Hasan, kondisi tersebut menjadi konsekuensi dari reformasi struktural pasar modal yang mulai dijalankan sejak Februari 2026. Reformasi itu mencakup peningkatan batas minimum free float menjadi 15 persen dari sebelumnya 7,5 persen, pembukaan data kepemilikan saham di atas 1 persen, hingga publikasi konsentrasi kepemilikan saham.
Bursa Menelan Pil Pahit, Untuk Kesehatan ke Depan
OJK mengakui reformasi tersebut membawa tekanan jangka pendek terhadap harga saham, terutama setelah pengumuman review indeks MSCI. Namun regulator menilai koreksi pasar saat ini merupakan proses pembentukan fondasi baru pasar modal domestik.
“Short-term pain ini memang sudah kami perhitungkan sejak awal dengan harapan momentum penyesuaian indeks kali ini akan membentuk baseline baru bagi pasar modal Indonesia,” kata Hasan.
Hasan mengungkapkan valuasi pasar saham Indonesia juga makin kini makin murah dibandingkan bursa regional. Ia menyebut Price to Earning Ratio (PER) rata-rata saham domestik saat ini berada di level 16 kali.
“IHSG kita sekarang sudah jauh di bawah posisi pada saat terjadi all time high di pertengahan Januari. Sekarang bahkan secara PER regional, tingkat rata-rata PER saham-saham kita sudah ada di bawah PER rata-rata bursa-bursa lainnya,” tuturnya.
Related News
BEI Respons Potensi Reklasifikasi Emerging Market RI oleh S&P DJI
BEI Tambah Lagi Konstituen ISSI, Terbaru BACH
Hingga Juni OJK Jatuhkan Denda Rp86,26 Miliar kepada 100 Pelaku Pasar
Respons OJK Soal IHSG Terkoreksi 34,74 Persen Sejak Awal Tahun
OJK dan KPPU Perluas Sinergi Pengawasan Sektor Keuangan, Ini Tujuannya
Dongkrak Likuiditas Sukuk, SPPA BEI Rilis Fitur Transaksi Repo SBSN





