EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih melemah hari ini (14/4/2026). Pada perdagangan hari ini mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.100 hingga Rp17.150.

Mengutip data Bloomberg, Selasa (14/4/2026), rupiah berada di level Rp17.130 per USD. Hal ini menunjukkan pelemahan 25 poin setara 0,15 persen dari Rp17.105 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sejumlah sentimen turut mempengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah. Terutama usai gagalnya perundingan yang terjadi antara Iran dan AS.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa angkatan laut AS akan memblokade semua lalu lintas maritim Selat Hormuz yang masuk dan keluar pelabuhan pada pukul 10 pagi ET.

Meski begitu, pasukan AS tidak menghalangi kebebasan navigasi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran mengatakan bahwa setiap kapal militer yang mencoba mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.

“Selain itu, data indeks harga konsumen yang dirilis Jumat lalu, menunjukkan peningkatan tajam inflasi akibat kenaikan harga energi dari konflik Iran,” tutur Ibrahim.

Faktor Domestik

Di samping itu, lanjut Ibrahim, Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai level 5,2 persen pada 2026. Angka ini lebih tinggi dibanding realisasi pertumbuhan tahun lalu sebesar 5,1 persen, namun lebih rendah dari target pemerintah sebesar 5,4 persen.

Kendati perekonomian Indonesia dinilai cenderung baik, ADB tetap mewanti-wanti sejumlah risiko yang mengancam stabilitas ekonomi nasional.

“Karena itu, ADB menyarankan agar pemerintah terus mempercepat Reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional,” kata Ibrahim.