EmitenNews.com - Pasar saham Korea Selatan menghadapi tekanan hebat menjelang pembukaan hari perdagangan pertama setelah liburan Hari Konstitusi. Indeks Kospi diprediksi jatuh di bawah ambang batas level 6.000 poin akibat kombinasi penurunan tajam sektor semikonduktor Amerika Serikat (AS) dan eskalasi konflik di Timur Tengah. Hambatan eksternal ini menjadi ancaman serius mengingat bursa Korea Selatan sangat didominasi oleh industri cip.

Sebelum liburan pada 16 Juli, Kospi sudah anjlok sebesar 463,81 poin atau 6,37 persen akibat memburuknya sentimen semikonduktor. Dua raksasa teknologi, Samsung Electronics dan SK Hynix, menyumbang sekitar 333 poin dari total penurunan tersebut.

Kondisi diperkirakan memburuk karena selama liburan pada 17 Juli, ETF Indeks MSCI Korea Selatan merosot tambahan 0,50 persen menyusul penurunan 4,82 persen pada hari sebelumnya, sementara kontrak berjangka malam Kospi juga jeblok 4,31 persen pada 16 Juli.

Tekanan utama yang mengancam level 6.000 pada Kospi ini berasal dari jatuhnya bursa Wall Street secara berturut-turut pada 16 dan 17 Juli. Pada penutupan perdagangan 17 Juli waktu setempat, Dow Jones Industrial Average merosot 0,77 persen ke posisi 52.146,42.

Pelemahan juga diikuti oleh S&P 500 yang turun 1,01 persen menjadi 7.457,69. Sementara itu, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi menunjukkan kerugian paling signifikan dengan turun 1,4 persen ke level 25.520,24.

Penurunan di bursa AS didorong oleh Indeks Semikonduktor Philadelphia yang anjlok 4,29 persen pada 16 Juli dan melemah lagi 1,63 persen pada 17 Juli.

Meskipun produsen cip TSMC mencatat rekor pendapatan, rencana ekspansi belanja modal mereka dinilai terlalu agresif sehingga memicu kekhawatiran kelebihan pasokan global. Sentimen investor kian mendingin setelah perusahaan kecerdasan buatan asal Tiongkok, Moonshot AI, meluncurkan model AI murah "Kimi K3" yang memicu kekhawatiran skenario guncangan pasar jilid dua.

Dalam beberapa minggu terakhir, investor telah menjual saham semikonduktor di tengah meningkatnya keraguan tentang apakah pengeluaran besar-besaran untuk pengembangan AI dapat membenarkan valuasi perusahaan yang tinggi dari beberapa perusahaan, tulis Wall Street Journal dalam laporannya.

Kondisi pasar diperparah oleh lonjakan harga minyak dunia setelah pangkalan militer AS di Yordania diserang pesawat tak berawak, yang dibalas dengan serangan udara oleh AS. Dampaknya, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September melonjak 3,12 persen menjadi 90,85 USD per barel pada 17 Juli. Ini merupakan pertama kalinya minyak Brent menembus level 90 USD sejak 11 Juni.

Bagi Indonesia, sentimen negatif global dan lonjakan harga minyak mentah ke level 90,85 USD per barel ini berpotensi memberikan dampak ikutan. Kenaikan harga minyak global biasanya memberi tekanan pada nilai tukar rupiah dan memperbanyak beban subsidi energi domestik, sementara kejatuhan saham sektor teknologi global dapat memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia, terutama pada saham-saham berbasis teknologi dan manufaktur yang berkaitan dengan rantai pasok global.(*)