Selat Hormuz Membara, Harga Minyak Dunia Tembus USD 90
:
0
Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada perdagangan hari Senin, melanjutkan tren kenaikan dari pekan lalu. (Foto: Magnific)
EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada perdagangan hari Senin, melanjutkan tren kenaikan dari pekan lalu. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang memicu kekhawatiran global akan gangguan serius pada jalur pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data dari Trading Economics, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kini merangkak naik mendekati level USD 85 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent telah menembus di atas level USD 90 per barel. Kenaikan signifikan ini terjadi setelah perjanjian perdamaian sementara antara AS dan Iran berantakan, yang diikuti oleh tindakan AS melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pemerintah Iran menyatakan bahwa gencatan senjata dengan AS telah runtuh. Pihak Teheran juga mengumumkan telah mencegat empat kapal yang melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan lalu. Di sisi lain, militer AS melaporkan kematian anggota militer mereka yang ketiga dalam dua hari terakhir di tengah aksi saling serang yang terus berlangsung dengan Teheran.
Konflik dilaporkan telah meluas ke luar target militer. Infrastruktur sipil seperti jembatan, fasilitas utilitas, hingga pelabuhan kini turut menjadi sasaran serangan.
Kuwait Petroleum Corp. mengatakan serangan Iran menghantam salah satu fasilitas minyaknya pada hari Sabtu.
Akibat rentetan peristiwa tersebut, harga minyak dunia kini tercatat telah melonjak hampir 30 persen dari titik terendah yang sempat menyentuh pada bulan Juli. Peningkatan eskalasi ini dipicu oleh intensitas serangan Teheran terhadap kapal-kapal yang melintas di dekat Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur choke point distribusi minyak terpenting di dunia.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak mentah global di atas USD 85 dan USD 90 per barel ini memberikan dampak langsung pada kondisi makroekonomi dalam negeri. Sebagai negara importir neto minyak (net oil importer), kenaikan harga komoditas energi ini berpotensi memberikan tekanan berat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya untuk alokasi subsidi dan kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM). Selain itu, situasi ini berisiko mendorong kenaikan harga energi domestik dan memicu inflasi jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut tanpa penyelesaian.(*)
Related News
Perluas Kapasitas, LJCSJ Kolaborasi China dan RI, Bidik Pasar Ekspor
Bank Jakarta KCP Kebayoran Park, Hadirkan Wajah Baru Lebih Modern
Perusahaan Pertukaran Baterai Pertama yang IPO, Yakinkan Investor
Bijih Besi Turun di Bawah CNY 760, Industri Baja RI Siap Hadapi Dampak
Dolar Mengamuk, Rupiah Tertekan Kekhawatiran Fiskal Domestik
Emas Global Jeblok, Harga Emas Antam Ikut Turun Tipis





