EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga mencapai level tertinggi dalam enam minggu pada perdagangan Kamis. Kenaikan harga ini dipicu oleh meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat eskalasi konflik militer di jalur pelayaran vital Timur Tengah.

Berdasarkan data dari Trading Economics, harga minyak mentah naik hingga mendekati level USD 88 per barel. Sementara itu, acuan minyak mentah Brent melonjak melampaui level USD 95 per barel pada hari yang sama.

Lonjakan harga tersebut terjadi setelah militan Houthi menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di kawasan Laut Merah. Kelompok militan tersebut mengonfirmasi bahwa serangan rudal dan drone dihantamkan ke kapal-kapal tersebut karena dianggap melanggar aturan blokade yang mereka tetapkan.

Laporan dari Operasi Perdagangan Maritim Inggris membenarkan insiden tersebut. Pihaknya melaporkan sebuah kapal mengalami kebakaran usai dihantam di wilayah barat daya lepas pantai Laut Merah Arab Saudi. Peristiwa ini mencatatkan serangan pertama terhadap kapal tanker di kawasan Laut Merah, sekaligus membuka front baru dalam konflik wilayah tersebut di tengah ancaman pelayaran yang masih berlangsung di Selat Hormuz.

Eskalasi militer juga melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Pasukan Amerika Serikat tercatat melancarkan serangan udara selama 12 hari berturut-turut ke wilayah Iran guna menekan ancaman terhadap jalur pelayaran komersial.

Di sisi lain, pemerintah Teheran melakukan aksi balasan dengan menyerang wilayah Kuwait. Kedua belah pihak terus meremehkan prospek pembicaraan damai, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ancaman akan melancarkan serangan lanjutan yang menyasar infrastruktur Iran.

Eskalasi harga minyak global ini berpotensi memberikan dampak domino bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara pengimpor neto minyak bumi, kenaikan harga acuan internasional dapat meningkatkan beban subsidi energi pemerintah serta memicu kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri. Kondisi tersebut berisiko mendorong lonjakan inflasi dan meningkatkan biaya logistik nasional jika gangguan rantai pasok global berlangsung dalam jangka panjang.(*)