EmitenNews.com - Kevin Warsh akhirnya memberi pidato pertama sebagai ketua the Fed di panggung paling bergengsi dan paling ditunggu setahun sekali Jackson Hole Symposium Jumat malam lalu.

Dampak pidato Warsh itu, harga emas ambles lebih dari 3 persen, bitcoin longsor dari USD80 ribu dolar Amerika Serikat (USD) menjadi sekitar USD77.400, indeks dolar menguat, dan probabilitas the Fed bakal mengerek suku bunga bulan depan lompat dari 35 persen ke 57,5 persen hanya dalam semalam.

Tapi yang bikin menarik bukan cum angkanya. Ini soal bagiamana Warsh "main game" yang beda dari para pendahulunya. Warsh males ngasih bocoran, tapi market tetep aja ngerasa dia hawkish. Dia bahkan ngasih pidato aneh di depan para bankir bank sentral, ekonom, analis, dan penggiat pasar global.

Pidato yang lain karena biasanya ketua the Fed pakai panggung ini buat kasih sinyal. Di zaman Jerome Powell, ketua the Fed sebelumnya, Powel biasanya mengatakan kalau rate cut di depan mata, Wall Street langsung pesta pora.

Warsh Bagaimana?

Dia sengaja nggak mau main di situ. Dia bilang ngak mau the Fed jadi tempat trader “nyari petunjuk" buat posisi beli atau jual. Tapi, ironisnya, ini justru jadi masalah. Warsh dikritik keras karena tidak memberi forward guidance, tapi malah mengatakan kalau the Fed justru melihat, dan memantau pergerakan harga.

Ceritanya jadi lucu: trader nunggu the Fed ngomong apa, disisi lain the Fed nunggu data, nggak ada mau jalan duluan. Meski tidak secara eksplisit substansinya tetap kentara hawkish. Warsh mengatakan inflasi musim panas membaik tapi "tren dasarnya belum berubah berarti". Itu cara klasik ngomong "saya belum puas."

Warsh mengatakan target 2 persen adalah harga mati alias "firm and fixed," nggak ada toleransi. Dan paling tajam: Warsh bilang kondisi finansial "sulit disebut restriktif". Itu artinya the Fed belum punya alas an buat buru-buru nurunin suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR).

Kenyataannya juga, data makro ekonomi terakhir kagak membantu. Data indeks belanja rumah tangga dan individu (Personal Consumption Expenditure/PCE) untuk Juli 2026 naik secara tahunan 3,7 persen, sementara ekonomi AS juga kehilangan 23 lapangan kerja. Data itu, mencerminkan situasi klasik stagflasi yang membuat the Fed serba salah.

Dan speech dia di Jackson Hole malah nambah kondisi makin aneh karena kenaikan indeks dolar langsung atau tidak langsung bakalan bikin inflasi dari impor (imported inflation) juga berpotensi naik. Kenaikan indeks dolar juga berdampak langsung kepada kenaikan yield treasury (surat utang pemerintah AS) saat utang pemerintah menembus angka USD40 triliun dengan pembayaran bunga sekitar USD1,7-1,8 triliun.