Dolar Mantap di 98,8, Peluang Suku Bunga Fed Naik 60%
:
0
Gedung Federal Reserve (The Fed). Foto: Magnific
EmitenNews.com - Indeks dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil di kisaran level 98,8 pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Pergerakan ini menghentikan tren penurunan baru-baru ini seiring para investor yang bersikap hati-hati menantikan rilis data penting inflasi AS.
Laporan Indeks Harga Produsen (PPI) AS periode Agustus dijadwalkan rilis pada Kamis, sebelum disusul oleh laporan inflasi konsumen (CPI) pada Jumat. Rilis data ekonomi utama lainnya yang dijadwalkan mencakup klaim pengangguran mingguan serta data penjualan rumah yang sudah ada.
Menurut laporan Trading Economics, pasar saat ini memperhitungkan peluang sebesar 60 persen bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan depan. Proyeksi kenaikan suku bunga ini diperkuat oleh rilis data tenaga kerja AS yang keluar lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.
Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS melonjak setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) utang jangka panjang hingga bernilai USD6 miliar. Nilai tersebut merupakan tiga kali lipat dari jumlah biasanya.
Meski naik signifikan, langkah intervensi pembelian utang oleh Departemen Keuangan AS tersebut masih mengecewakan sebagian investor yang sebelumnya mengantisipasi nominal kenaikan lebih besar.
"Pasar saat ini memperkirakan sekitar 60% kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Fed minggu depan setelah data pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan," tulis Trading Economics terkait proyeksi kebijakan moneter AS.
Selain faktor data tenaga kerja, kenaikan harga minyak mentah akibat eskalasi konflik antara AS dan Iran yang terus meningkat turut memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini makin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Stabilitas indeks dolar AS di level 98,8 bersamaan dengan potensi kenaikan suku bunga The Fed memberikan dampak langsung bagi pasar keuangan Indonesia. Kombinasi penguatan mata uang Paman Sam dan tingginya yield obligasi AS berisiko menekan pergerakan nilai tukar rupiah serta memicu potensi aliran modal keluar dari pasar modal domestik.(*)
Related News
Emas Antam Naik Rp15.000 Mengekor Rebound Emas Dunia
Minyak Tembus USD101, Yield AS Naik, Bursa Asia Terkapar
Yield Obligasi AS 10 Tahun Tembus 4,85%, Ancam SBN Indonesia
Pelaku Pasar Hati-Hati, Emas Tertahan di USD4.400
Kontrak Berjangka AS Stabil, Pasar Tunggu Data Inflasi
Harga Minyak Tembus 102 Dolar, Lampaui Asumsi APBN 2026





