EmitenNews.com - Imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor 10 tahun melesat mendekati level 4,85 persen pada perdagangan Rabu (9/9). Kenaikan ini membawa imbal hasil surat utang pemerintah AS tersebut ke posisi tertinggi sejak Oktober 2023.

Lonjakan imbal hasil terjadi meskipun Departemen Keuangan AS melipatgandakan nilai pembelian kembali (buyback) obligasi dan surat utang yang dijadwalkan berlangsung Kamis. Otoritas moneter AS mengeksekusi buyback sekuritas di luar pasar senilai USD6 miliar, melampaui janji Menteri Keuangan Scott Bessent sebelumnya yang menyebut angka minimal USD4 miliar.

Berdasarkan data Trading Economics, lonjakan yield pada kurva jangka panjang sepanjang tahun ini dipicu oleh melambungnya harga minyak mentah akibat eskalasi perang di Iran. Kondisi ini mendorong kenaikan inflasi inti yang berisiko memicu kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve pada pertemuan mendatang.

Tekanan terhadap yield makin diperberat oleh rekor penawaran pasokan utang korporasi global, di mana perusahaan-perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) telah menerbitkan utang baru melampaui USD1,5 triliun.

Di sisi lain, tekanan hebat pada mata uang yen memicu pemerintah Jepang berulang kali melepas kepemilikan sekuritas Treasury untuk mempertahankan nilai tukar domestiknya.

"Imbal hasil obligasi 10 tahun tersebut pulih sebagian setelah lelang baru dihentikan di bawah 1,5 bps," tulis laporan Trading Economics terkait dinamika penutupan lelang Treasury tersebut.

Pemerintah AS menempuh berbagai intervensi pasar guna menekan imbal hasil jangka panjang yang terus merangkak naik akibat tingginya inflasi dan melimpahnya penerbitan utang baru di pasar global.

Lonjakan yield Treasury AS hingga mendekati 4,85 persen ini berdampak langsung bagi pasar keuangan Indonesia. Kenaikan yield obligasi acuan AS tersebut berisiko memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) serta menaikkan biaya pinjaman (cost of fund) pemerintah Indonesia dalam menerbitkan utang baru.(*)