IHSG Senin (29/6) Lanjut Turun, Nilai Transaksi Hanya Rp9 Triliun
:
0
Main Hall Bursa Efek Indonesia (Foto: Emitennews/Aji)
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan awal pekan Senin (29/6/2026) berakhir di zona merah. Indeks komposit merosot 75,34 poin atau 1,28% ke level 5.820,79.
Dibuka di level 5.932, IHSG langsung melesat di awal perdagangan pagi. Namun penguatan tak bertahan lama dan terus berada di area negatif hingga akhir perdagangan sesi siang. Level terendah di 5.800,28.
Pelemahan indeks terlihat dari banyaknya saham mencatat penurunan yaitu 449 saham. Hanya 214 saham menguat dan 149 lainnya stagnan.
Total volume perdagangan 15,48 miliar saham, frekuensi 1,23 juta kali, dan transaksi tipis hanya single digit yaitu Rp9 triliun.
Nilai transaksi tersebut didominasi Bank Central Asia (BBCA) senilai Rp1,1 triliun namun harganya merosot 4,05%. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyusul dengan nilai transaksi total Rp491,9 miliar dan harga merosot 1,05%. Chandra Asri Pacific (TPIA) total Rp480 miliar dan harga turun 4,74%.
Akhir pekan lalu, IHSG ditutup anjlok 102,9 poin atau 1,72% ke level 5.869,13 pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (26/6/2026).
Top Gainers dan Losers LQ45
Dari klasemen 45 saham terlikuid, Essa Industries (ESSA) mencatat penurunan terdalam 8,06% ke Rp570, diikuti Perusahaan Gas Negara (PGAS) anjlok 6,25% ke Rp1.425, dan Barito Pacific (BRPT) merosot 4,10% ke Rp1.405 per saham.
Berbeda sisi, saham Unilever Indonesia (UNVR) mencatat penguatan terbesar 2,31% ke Rp1.770, disusul Bank Tabungan Negara (BBTN) naik 2,25% ke Rp1.135, dan Semen Indonesia (SMGR) yang menguat 1,71% ke Rp1.490 per saham.
Indeks Asia Mayoritas Menguat
Related News
Akhiri Juni IHSG Rontok Lagi, Market Cap di Bawah 10 Ribu Triliun
Menanti Review S&P Bulan Juli hingga MSCI yang Jadi Overhang Terbesar
Merah Total, IHSG Kembali Terpuruk 2,42 Persen ke 5.679
Susunan Direksi BEI Periode 2026-2030, Ini Nama-Namanya
Baru Buka, IHSG Tetiba Anjlok 1,26 Persen ke 5.747
Vietnam Airlines Bidik Laba Meski Bahan Bakar Melonjak, Garuda Bisa?





