EmitenNews.com - Vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca jalan terus. Badan Kesehatan Dunia (WHO) meminta negara-negara agar meneruskan penggunaan vaksin asal Inggris tersebut dalam program vaksinasi. Lembaga di bawah PBB itu memastikan, tidak ada kaitan antara vaksinasi dengan penggumpalan darah. Indonesia, dan 16 negara lainnya, telah menangguhkan vaksinasi dengan vaksin yang diproduksi bersama Oxford itu, sampai ada penelitian lebih lanjut. 

 

WHO melalui juru bicaranya, Christian Lindmeier menjelaskan mereka tengah menginvestigasi laporan yang mendasari penangguhan tersebut. Meski begitu, Lindmeier menerangkan belum ada bukti AstraZeneca menghasilkan penggumpalan darah, seperti dilaporkan sejumlah negara. "Sangat penting vaksinasi dilanjutkan sehingga kita bisa menyelamatkan banyak nyawa dan mencegah hal terburuk akibat pandemi virus corona penyebab coronavirus disease 2019 atau Covid-19.” 

 

Menjelang pertemuan yang bakal menghasilkan keputusan Kamis (18/3/2021), EMA (European Medical Authority) juga meminta vaksinasi dilanjutkan. Profesor Andrew Pollard, salah satu pengembang vaksin Oxford-AstraZeneca menuturkan tidak ada kenaikan fenomena penggumpalan di Inggris. Badan Obat-obatan Eropa itu, juga menggelar pertemuan untuk membahas isu yang berkembang. 

 

Pihak AstraZeneca, perusahaan farmasi yang berbasis di Cambridge, menegaskan, tak ada bukti produk mereka menghasilkan penggumpalan darah. Berdasarkan analisis mereka, terdapat 15 kasus trombosis vena-dalam (DVT), penggumpalan dalam vena. Kemudian terdapat juga 22 kasus emboli paru, atau saat pembekuan memasuki paru-paru, dari mereka yang sudah divaksin. Angka kasus itu dinilai jauh lebih rendah dari prediksi mereka pada populasi besar yang telah divaksin. 

 

Sebelumnya, sekitar 17 juta orang di Uni Eropa dan Inggris divaksin dengan Oxford-AstraZeneca. Dari situ ditemukan 40 kasus penggumpalan darah, pekan lalu. Senin (15/3/2021), Kementerian Kesehatan Jerman mengumumkan menghentikan vaksinasi secepatnya. Keputusan itu diambil atas rekomendasi Institut Paul Ehlirch (PEI), badan yang mengurusi vaksinasi. Menurut Menteri Kesehatan Jens Spahn, mereka menemukan laporan baru kasus trombosis vena serebral karena vaksin AstraZeneca. "Setelah muncul laporan itu, Institut Paul Ehlirch mengevaluasi lagi situasinya dan merekomendasikan vaksinasi ditunda."

 

Setelah Jerman, Perancis melalui Presiden Emmanuel Macron juga menerapkan penangguhan sembari menunggu rekomendasi EMA. Kemudian di Spanyol, Menteri Kesehatan Carolina Darias menuturkan pihaknya akan menghentikan vaksinasi selama dua pekan. Indonesia termasuk salah satu dari 17 negara yang menangguhkan vaksin AstraZeneca tersebut. ***