Ekonomi Jepang Kuartal Pertama 2026 Tumbuh di Bawah Ekspektasi
:
0
Ekonomi Jepang tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 1,8% pada kuartal pertama tahun 2026.(Foto: Kaohoon International)
EmitenNews.com - Ekonomi Jepang tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 1,8% pada kuartal pertama tahun 2026, lebih rendah dari perkiraan awal sebesar 2,1%, tetapi masih melebihi ekspektasi pasar sebesar 1,3%.
Melansir keterangan resmi dari kantor kabinet Jepang, Trending Economics angka pertumbuhan tersebut juga meningkat dari kenaikan 0,7% yang direvisi lebih rendah pada kuartal keempat, menandai kenaikan tahunan terkuat dalam empat kuartal.
Konsumsi swasta menguat, sementara investasi publik meningkat untuk pertama kalinya dalam tiga kuartal, didukung oleh pengeluaran terkait infrastruktur dan rekonstruksi yang lebih tinggi.
Pengeluaran pemerintah meningkat untuk kuartal keempat berturut-turut, meskipun lajunya sedikit melambat dari periode sebelumnya. Perdagangan bersih juga memberikan kontribusi positif yang solid terhadap pertumbuhan, didorong oleh ekspor yang lebih kuat.
Sebaliknya, investasi bisnis mengalami kontraksi setelah meningkat pada kuartal keempat, karena biaya pinjaman yang tinggi dan sentimen perusahaan yang lebih lemah mengurangi minat perusahaan untuk belanja modal. Sementara itu, ketidakpastian seputar konflik Timur Tengah dapat membebani aktivitas ekonomi di kuartal-kuartal mendatang.
Sementara itu data terbaru dari Kementerian Keuangan Surplus neraca transaksi berjalan Jepang tercatat meningkat menjadi 3.907,8 miliar yen pada April 2026 dari 2.370,0 miliar yen pada bulan yang sama tahun sebelumnya, melebihi ekspektasi pasar sebesar 3.137 miliar yen.
Surplus neraca barang melonjak menjadi 395,7 miliar yen dari angka yang sangat kecil pada tahun sebelumnya, karena pertumbuhan ekspor (13,9%) melampaui impor (9,5%). Selain itu, surplus pendapatan primer melebar menjadi 4.210,0 miliar yen dari 3.649,8 miliar yen.
Sementara itu, defisit neraca jasa menyempit tajam menjadi 416,0 miliar yen dari 725,9 miliar yen. Selain itu, defisit pendapatan sekunder menurun menjadi 281,8 miliar yen dari 553,1 miliar yen.(*)
Related News
AS Marah Uni Eropa Denda Google Rp18 Triliun
Timur Tengah Mencekam, Harga Minyak Lewati 100 Dolar per Barel
Forum Bisnis RI-China, Pemerintah Buka Peluang Investasi Data Center
Fitch Turunkan Rating Perusahaan Asuransi Anak BUMN Ini Jadi ‘BB+(idn)
RI Surplus Dagang Rp103 Triliun dengan China, Kadin Ungkap Peluang Ini
Pemerintah Lelang SBSN Selasa (28/7), Target Indikatif Rp10 Triliun





